Sabtu, 29 Oktober 2011

Lingkaran Setan Kodepedensi


Lingkaran Setan dari Kodepedensi
Semakin besar perubahan, semakin sulit tantangannya. Tetapi belajar menjadi efektif itu jawabannya.

Kebiasaan, suatu usaha yang dilakukan berulang-ulang, berdasarkan kesungguhan.

Menjadi efektif bukan merupakan suatu pilihan, hal ini merupakan suatu pilihan, hal ini merupakan harga yang harus di bayar.

Untuk dapat bertahan hidup, bertumbuh dan berinovasi, menjadi unggul dan terkemuka tidak hanya harus membangun sebuah keefektivitasan, tetapi harus juga melampauinya.

Diri kita sendiri itu terdiri atas bakat, passion, kebutuhan, dan nurani. Hal ini yang bisa menjadikan kita sukses, ini adalah sebagai tolak ukur kesuksesan di dalam diri kita.

Seperti yang di pikirkan oleh Yoga Sutra, ketika terilhami oelh suatu tujuan yang mulia, suatu proyek yang luar biasa, maka pikiran kita akan menerjang berbagai pembatasnya. Pikiran kita akan menembus segala keterbatasan tersebut; kesadaranpun akan meluas ke segala arah. Dan ketika pikiran-kesadaran kita meluas, kita akan menemukan diri di dunia yang baru, luar biasa dan mengagumkan.

Begitu banyak jumlah orang yang berkembang pesat, dengan dihadakan dengan berbagai pilihan. Tetapi, semua pilihan tersebut memang dihadapkan kembali pada pengelolaan diri sendiri.

Pekerjaan pengetahuan yang bermutu, memang sangat berharga. Dan jika kita bisa mendayagunakan potensi dengan baik, maka kesempatan akan terbuka untuk menciptakan sebuah nilai.

Banyak orang yang memegang otoritas tidak mengetahui apa sesungguhnya nilai dan potensi orang-orang yang ada.
Para pemegang otoritas tidak memiliki pemahaman utuh dan tepat mengenai kodrat manusia.
Kekurangpahaman akan hal ini menghalangi pendayagunaan dari motivasi, bakat dan kecerdasan tertinggi yang ada.
Berdampak pada pendepersonalisasian kerja, penciptaan budaya seragam, kekurang percayaan, dan penuh curiga.
Ternyata perilaku tersebut berhubungan erat tentang personalita dalam keluarga.

Adanya perlakuan merendahkan, mengasingkan, mendepersonalisasikan, tingkat kepercayaan rendah, perlawanan, dan pembangkangan akan terjadi dalam keluarga.

Kebebasan harus didapatkan, diraih, sebelum akhirnya kemudian kepemimpinan itu menjad sebuah pilihan.
Keengganan untuk mengambil inisiatif, bertindak secara independen, dan berharap para pengikut mau bertindak disebut kodepedensi.
Masing-masing saling bergantung, kelemahan bertumpuk dan terjadinya pembenaran kesalahan dari pihak lain.

Budaya kodependen terus berkembang sehingga terlembagakan sedemikian rupa sampai dengan titik dimana tidak ada seorang pun yang mau bertanggung jawab.

Dari hal tersebut mereka saling menggembosi kekuatan mereka dengan percaya bahwa orang lain harus berubah dulu sebelum lingkungan mereka yang akan berubah menjadi baik.

Hal seperti ini terjadi di dalam sebuah siklus di keluarga, di antara orang tua dan anak.
Pengaruh buruk dari kodepedensi tersebut menumbuhkan mentalitas berkekurangan.

Scarcity Mentality menyebabkan orang merasa sulit untuk benar-benar merasa bahagia ketika orang lain berhasil. Dalam lingkup ruang pribadi, orang yang berbakat, cerdas, kreatif di setiap tingkatnya menjadi merasa kurang dihargai dan tidak terinspirasi.

Kembali kepada percaya diri sendiri, bahwa diri kita punya kekuatan dan kemampuan untuk mengubah lingkungan. 

KEBIASAAN


KEBIASAAN adalah suatu usaha yang kita lakukan berdasarkan kesungguhan yang dilakukan berulang-ulang.

Seven habits ini adalah buku monumental yang menekankan pada ketulusan, bukan perilaku instant yang dibuat-buat tanpa motivasi yang tulus. Walaupun Covey telah mengeluarkan buku baru 8 habbits, rasanya buku lamanya ini masih layak untuk dibaca ulang. Tetapi, mungkin hal ini hanya berlaku dengan orang yang memang benar menyukai tema ini.

Perubahan, prinsip dan pilihan. Ketiga hal itu adalah sesuatu yang terus ada di dunia ini.

Perubahan terus terjadi di dunia, seiring dengan waktu, maka perubahan terus terjadi.namun prinsip-prinsip tidak berubah. Seperti contohnya: prinsip-prinsip kesopanan, kejujuran, keberanian, dan kebaikan hati, yang merupakan dasar yang kokoh untuk membangun karakter manusia seutuhnya.

Pilihan selalu dimiliki oleh setiap manusia.
Seseorang yang dimaki-maki orang lain --tak mesti harus sakit hati-- dia sebenarnya memiliki pilihan-pilihan untuk memberi respon. Dia bisa sakit hati, marah, balas memaki-maki, bahkan menonjok si pelaku, Namun dapat juga diam dan tersenyum seraya menganggap si orang yang memaki-maki sedang mengalami hari yang buruk. Manusia bebas memilih, namun manusia akan selalu menanggung resiko dan tak bisa lepas dari akibat yang ditimbulkan oleh pilihan-pilihannya.

Manusia yang proaktif adalah seorang manusia yang berkemampuan memilih respon sesuai dengan nilai-nilai yang dianut. Sedang sikap reaktif adalah respon yang didasarkan pada perasaan, keadaan atau suasana hati.

Apa sih yang ingin kita capai dalam hidup kita selama ini, bagaimana ya kira-kira untuk mencapai tujuan kita itu? Nah, dengan menuliskan sebuah tujuan akhir kita sebagai sesuatu yang bisa kita sebut sebagai visi kita, kemudian barulah kita tentukan langkah-langkah untuk mencapai tujuan. Menyelaraskan kegiatan sehari-hari kita dengan tujuan yang telah kita tentukan tersebut.

Harus dibiasakan untuk mendahulukan pekerjaan ataupun sesuat hal  yang paling penting. First thing first. Jika kita termasuk pribadi yang kerap melakukan hal yang penting dan mendesak ini kemungkinan
besar karena kita termasuk orang yang terlalu banyak menunda-nunda pekerjaan dan mengabaikan perencanaan dan pencegahan. Misalnya: kehabisan bensin, terburu-buru untuk menghadiri rapat.

Anda mempunyai banyak Hal yang penting dan tidak mendesak? Selamat! Karena, idealnya  memang orang menghabiskan sebagian besar waktunya di sini. Belajar, evaluasi, perencanaan yang baik, olahraga, membina hubungan baik dengan orang lain, termasuk dalam fase ini. Misal: Belajar, Pelatihan, Olah raga 3 kali seminggu, Membina hubungan, Preventive maintenance, Memulai pekerjaan jauh sebelum batas waktu habis.

Anda mempunyai banyak Hal yang tidak mendesak dan tidak penting? Selamat juga bagi anda kalau begitu, selamat untuk tidak dapat menghasilkan apa-apa pada akhirnya. Di sinilah tempat orang-orang pemalas menghabiskan waktu. Baca koran berlebihan dengan alasan cari informasi, nonton TV berlebihan, ngobrol dengan relasi berlebihan. Hal-hal yang dalam jangka pendek menyenangkan untuk dilakukan.
Memang hal seperti ini sangat menyenangkan, tetapi tidak ada manfaatnya untuk jangka panjang. Misal:  Telpon tak penting, Tak bisa menolak ajakan orang, Banyak main games, Banyak membaca koran/majalah, Banyak nonton TV, Banyak ngobrol, Tidur melulu, Banyak jalan-jalan.


7 Habits of Highly Effective People atau 7 Kebiasaan manusia yang sangat efektif ditulis oleh Dr. Stephen R Covey. Buku ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1989 dan sudah dicetak melebihi 15 juta ekslempar pada tahun 2004 serta telah diterjemahkan ke dalam 38 bahasa (termasuk bahasa indonesia).
Dr Covey sendiri dinobatkan sebagai salah seorang (dari 25) yang sangat mempengaruhi Amerika oleh “Time Magazine” pada tahun 1996. Selain itu, Dr Covey juga menulis sebuah buku (bersama dengan A.Roger & Rebecca R Merrill) yang juga tidak kalah terkenalnya yaitu First Thing First

Pertama kali membuka buku 7 Habit ini, saya langsung disuguhi dengan definisi paradigma atau sudut pandang. Apa yang kita lihat belum tentu sama dengan yang dilihat oleh orang lain, teman kita, atau bahkan orang yang duduk di sebelah kita. Sekalipun obyek yang kita lihat sama, hasil atau respon yang muncul tidak selalu sama. Inilah kekuatan sebuah paradigma. Jika kita tidak mengerti paradigma orang lain maka kita akan berpikiran bahwa orang ini aneh, freak, atau seenaknya sendiri. Demikian pula dengan orang lain yang tidak bisa memahami paradigma berpikir kita. Berusaha memaksakan sudut pandang kita kepada mereka akan menghasilkan perdebatan dan permusuhan, sebaliknya jika kita berusaha memahami paradigma mereka maka kita akan mengerti mereka, menyelami mereka, dan mendapatkan hubungan yang lebih menyenangkan.
Pertanyaannya adalah paradigma siapa yang lebih benar ? Adakah standar yang sama untuk menilai sudut pandang seseorang ? Inilah yang akan dibahas dalam buku 7 Habits of Highly Effective People. Kita harus merubah sudut pandang  dan cara berpikir kita terlebih dulu supaya bisa menjadi seseorang yang sangat efektif.

Dan langkah pertama yang harus kita lakukan adalah merubah diri kita sendiri. Perubahan ini akan dirasakan oleh orang di sekitar kita yang kemudian dengan sendirinya akan berubah seiring dengan peningkatan kemampuan kita. Langkah terakhir adalah menjaga keseimbangan ini.


Komponen Yang Terkait dalam Pendidikan Anak Usia Dini


Beberapa komponen yang terkait dengan pendidikan anak usia dini adalah sebagai berikut.

a.   Kurikulum Pendidikan untuk Anak Usia Dini

Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi anak (the whole child) agar kelak dapat berfungsi sebagai manusia yang utuh seuai kultur, budaya, dan falsafah suatu bangsa. Anak dapat dipandang sebagai individu yang baru mulai mengenal dunia. Ia belum mengetahui tatakrama, sopan-santun, aturan, norma, etika, dan berbagai hal tentang dunia. Ia juga sedang belajar berkomunikasi dengan orang lain dan belajar memahami orang lain. Anak perlu dibimbing agar mampu memahami berbagai hal tentang dunia dan isinya. Ia juga perlu dibimbing agar memahami berbagai fenomena alam dan dapat melakukan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup di masyarakat. Interaksi anak dengan benda dan dengan orang lain diperlukan untuk belajar agar anak mampu mengembangkan kepribadian, watak, dan akhlak yang mulia. Usia dini merupakan saat yang amat berharga untuk menenamkan nilai-nilai nasionalisme, kebangsaan, agama, etika, moral, dan sosial yang berguna untuk kehidupannya dan strategis bagi pengembangan suatu bangsa.

b.   Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini

Pembelajaran bersifat holistik dan terpadu. Pembelajaran mengembangkan semua aspek perkembangan, meliputi
(1) moral dan nilai-nilai agama,
(2) sosial- emosional,
(3) kognitif (intelektual),
(4) bahasa,
(5) Fisik-motorik,
(6) Seni.

Pembelajaran bersifat terpadu yaitu tidak mengajarkan bidang studi secara terpisah. Satu kegiatan dapat menjadi wahana belajar berbagai hal bagi anak. Bermain sambil belajar, dimana esensi bermain menjiwai setiap kegiatan pembelajaran amat penting bagi anak usia dini. Esensi bermain meliputi perasaan senang, demokratis, aktif, tidak terpaksa, dan merdeka menjadi jiwa setiap kegiatan. Pembelajaran hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga menyenangkan, membuat anak tertarik untuk ikut serta, dan tidak terpaksa. Guru memasukkan unsur-unsur edukatif dalam kegiatan bermain tersebut, sehingga anak secara tidak sadar telah belajar berbagai hal.

Materi pembelajaran dari Pendidikan Anak Usia Dini juga amat variatif. Ada pendapat yang menyatakan bahwa pada tahap pendidikan ini hanya mengembangkan logika berpikir, berperilaku, dan berkreasi. Adapula yang menyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini ini juga mempersiapkan anak untuk siap belajar (ready to learn); yaitu siap belajar berhitung, membaca, menulis. Ada pula yang menyatakan bahwa materi pembelajaran bebas, yang penting pada anak usia dini ini adalah untuk mengembangkan aspek moral-agama, emosional, sosial, fisik-motorik, kemampuan berbahasa, seni, dan intelektual. Pendidikan Anak Usia Dini membimbing anak yang premoral agar berkembang ke arah moral realism dan moral relativism.

Pembelajaran membimbing anak dari yang bersifat egosentris-individual, ke arah prososial, dan sosial-komunal. Pembelajaran juga melatih anak menganal jati dirinya (self identity), menghargai dirinya (self esteem), dan kemampuan akan dirinya (self efficacy). Banyak pertanyaan dari guru dan orangtua tentang bolehkan mengajarkan anak berhitung, membaca, dan menulis. Bukannya tidak boleh mengajarkan semua itu, tetapi yang penting ialah anak sudah siap dan guru menggunakan cara-cara yang sesuai untuk belajar anak.

       c. Asesmen Otentik

Untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan belajar anak usia dini digunakan Asesmen Otentik. Melalui pemantauan secara terus menerus, dalam berbagai konteks, dan berdasarkan apa yang dapat dikerjakan dan dihasilkan anak, guru dan orangtua dapat memberi bantuan belajar yang pas sehingga anak dapat belajar secara optimal. Oleh karena itu asesmen otentik dilakukan secara terus menerus bersamaan dengan kegiatan pembelajaran.

Hasil karya anak, hasil pengamatan guru, dan informasi dari orangtua diperlukan untuk memotret perkembangan belajar anak. Berbagai teknik dan instrumen asesmen, seperti catatan anekdot (anecdotal record), catatan narative (narrative record), catatan cepat (running record), sample kegiatan (event sampling), dan dengan portofolio digunakan untuk memantau perkembangan anak.

       d.  Pemanfaatan Teknologi

Pemanfaatan teknologi untuk optimalisasi pembelajaran anak di era global juga disertakan untuk membekali para calon guru bagaimana menggunakan teknologi canggih untuk membelajarkan anak. Salah satu ciri masyarakat modern ialah melek teknologi. Untuk itu sejak anak-anak mereka perlu diperkenalkan dengan produk teknologi agar dapat beradaptasi secara aman dan ketertarikan untuk mengembangkannya kelas. TV, Video, Radio, Kalkulator, Kulkas, Kompor gas, Kamera, Dispenser, Mobil, Motor, dan Komputer merupakan barang keseharian yang dijumpai anak. Untuk mengenalkan teknologi kepada anak, sekolah perlu bekerjasama dengan orangtua dan masyarakat di sekitar sekolah.

Pengenalan teknologi diharapkan akan memberi wawasan dan juga menarik anak untuk mengembangkan cita-cita (learning to be) untuk menjadi ahli dalam teknologi atau ahli dalam bidang tertentu. Sesuai dengan bakat dan minatnya kelak anak ada yang menjadi ahli pertanian, ahli komputer, ahli radio, ahli motor bakar, dan sebagainya. Produk teknologi, di samping segi positifnya, juga memiliki segi negatif bila tidak digunakan dengan benar. Banyak acara TV, program tayangan dalam bentuk VCD, DVD program dan internat yang tidak baik untuk anak usia dini. Untuk itu guru dan orangtua perlu memahami
bagaimana cara menggunakan produk teknologi dengan benar agar tidak memberi efek negatif pada anak.

         e. Kerjasama Sekolah-Masyarakat

Institusi dan Guru tidak bisa bekerja sendiri, tetapi harus menjalin kerjasama yang baik dengan berbagai elemen, baik dengan kelompok profesional yang menitikberatkan pada Pendidikan Usia Dini, dengan orangtua anak, dengan dokter atau Puskesmas, Posyandu, dan dengan masyarakat. Sekolah amat terbatas dalam memberikan layanan pendidikan kepada anak. Peranan orangtua dan masyarakat di sekitar sekolah maupun secara luas amat diperlukan. Untuk itu kerjasama antar guru di dalam satu sekolah, dalam profesi, dan kerjasama dengan orangtua dan masyarakat sangat diperlukan.

Berbagai fasilitas yang ada di masyarakat, seperti kebun, perikanan, pertanian, bengkel, perpustakaan, bank, stasiun kereta api, dan instansi lainnya sangat penting untuk PAUD. PAUD sebaiknya memberi kaya pengalaman belajar pada anak dengan multikonteks seperti tersebut. Trilogi pendidikan dari Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan merupakan tanggungjawab bersama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Oleh karena itu kerjasama yang baik ketiga unsur tersebut dalam PAUD sangat diperlukan

       f. Model-model Kurikulum PAUD

Pendidikan anak usia dini (early childhood education) merupakan suatu disiplin ilmu pendidikan yang secara khusus memperhatikan, menelaah dan mengembangkan berbagai interaksi edukatif antara anak usia dini dengan pendidik untuk mencapai tumbuh kembang potensi anak secara optimal. Studi literatur menunjukkan bahwa ilmu pendidikan anak usia dini menyajikan berbagai kajian akademik tentang berbagai model isi dan proses pendidikan yang dapat diberikan dan dikembangkan pada anak usia dini. Uraian pada bab 3 telah memberikan beberapa model yang dapat diterapkan dan dikembangkan oleh para akademisi dan praktisi pendidikan anak usia dini pada berbagai seting kelembagaan.

Sebagai rumpum keilmuan, pendidikan anak usia dini memiliki kerangka ontologis, epistimologis dan aksiologis yang merupakan dasar suatu ilmu. Kerangka ontologis pendidikan anak usia dini mencakup berbagai interaksi edukatif pada wilayah situasi pendidikan (keluarga, masyarakat dan sekolah). Kajian ontologis ini memberikan keluasan wilayah terapan dan pengembangan ilmu pendidikan anak usia dini sehingga akan memiliki nilai guna (aksiologis) yang luas untuk berbagai kepentingan dan tujuan.

Pendidikan anak usia dini secara akademik dan praksis dapat dipelajari, ditelah dan diterapkan serta dikembangkan dalam seting keluarga. Interaksi edukatif antara anak usia dini dengan orang dewasa dalam keluarga merupakan salah satu bentuk kajian khusus yang memberikan gambaran tentang isi dan proses pendidikan yang dapat diterapkan dan dikembangkan dalam seting keluarga. Nilai aksiologis dari gambaran isi dan proses pendidikan anak usia dini dalam keluarga dapat dijadikan panduan dan perbandingan bagi orang tua maupun calon orang tua untuk membimbing dan membina tumbuh kembang anak secara optimal dalam lingkungan keluarga.

Ilmu pendidikan anak usia dini juga memberikan gambaran akademis dan praksis tentang isi dan proses pendidikan yang terjadi antara anak usia dini dengan lingkungan masyarakat. Pada lingkungan masyarakat ini sudah mulai muncul berbagai lembaga pendidikan non formal yang memberikan perhatian khusus pada pengembangan anak usia dini, seperti Bina Keluarga Balita, Posyandu, Taman Bermain, Sanggar Kreatvitas anak dan Taman Pengasuhan Anak.

Lembaga semi formal ini sudah tentu perlu dan harus mempelajari dan menerapkan berbagai isi dan proses pendidikan pada anak usia dini dengan benar sesuai dengan rujukan akademis yang secara khusus mempelajari hal tersebut.

Disamping itu, rumpun ilmu pendidikan anak usia dini juga memberikan gambaran akademis dan praksis tentang isi dan proses pendidikan dalam seting persekolahan. Paradigma sekolah pada anak usia ini telah dipelajari, diteliti dan dikembangkan oleh para ahli dengan menggunakan kerangka filosofis, model dan pendekatan yang beraneka ragam. Keragaman ini memberikan pilihan model untuk diterapkan dan dikembangkan oleh para akademisi dan praktisi pendidikan anak usia dini yang bekerja pada seting sekolah seperti Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar Kelas awal (primary grade).


Kondisi Pembelajaran Anak yang Nyaman


Untuk kondisi dalam pembelajaran anak, lingkungan perlu ditata agar kondusif untuk belajar. Penataan lingkungan belajar dan fasilitas belajar untuk anak usia dini amat penting untuk mengembangkan aspek-aspek perkembangan anak. Di rumah, anak-anak memerlukan mainan yang tidak perlu mahal tetapi baik dan aman untuk belajar anak.

Di sekolah anak-anak juga perlu mainan yang aman dan baik untuk belajar. Berbagai alat permainan dan fungsinya bagi  perlu dipahami dan digunakan dengan cara yang benar. Para guru perlu memahami peranan “Pojok Belajar” (Learning Center dan Learning Area), bagaimana cara menyusunnya, apa saja isinya, dan bagaimana penggunaannya. Penataan kelas juga amat penting. Di TK dan SD awal anak-anak belajar dalam kelas dan di luar kelas. Penataan kelas, isi kelas, dan fungsinya sangat mempengaruhi kegiatan belajar anak.

Halaman sekolah didisain dengan baik agar berfungsi sebagai tempat bermain dan belajar anak. Berbagai jenis alat permainan yang mengembangkan motorik kasar atau otot-otot besar yang diperlukan untuk membentuk fisik anak agar tumbuh dengan baik.

Alat permainan untuk mengembangkan kemampuan dasar anak seperti kekuatan, ketahanan, keseimbangan, kecekatan/ketangkasan, dan koordinasi sangat diperlukan. Lingkungan belajar juga harus memberi pengalaman belajar yang menarik dan kaya ragam bagi anak. Mengamati perkembangan anak ayam, kucing, atau hewan yang lain amat menarik bagi anak.

Demikian pula pengalaman menanam, menyirami, dan memupuk tanaman. Akuarium dan terarium sama menariknya bagi anak dengan pasel dan game. Untuk itu guru dan orangtua perlu memahami seting lingkungan belajar anak usia dini.

Cara Belajar


Anak usia dini belajar dengan caranya sendiri. Bermain merupakan cara belajar yang sangat penting bagi anak usia dini. Sering guru dan orangtua mengajarkan anak sesuai dengan jalan pikiran orang dewasa, seperti melarang anak untuk bermain. Akibatnya apa yang diajarkan orangtua sulit diterima anak dan banyak hal yang disukai oleh anak dilarang oleh orangtua; sebaliknya banyak hal yang disukai orangtua tidak disukai anak. Untuk itu orangtua dan guru anak usia dini perlu memahami hakikat perkembangan anak dan hakikat Pendidikan Anak Usia Dini agar dapat memberi pendidikan yang sesuai dengan jalan pikiran anak.

Berbagai teori belajar pada anak seperti teori Piaget, Vygotsky, Montessori, Bandura, Case, Bruner, dan Smilansky menjelaskan cara belajar anak dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Oleh karena itu teori belajar tersebut perlu dipilih dan disesuaikan dengan karakteristk anak serta materi ajarnya. Modalitas belajar anak juga berbeda-beda, sehingga cara anak belajar berbeda pula. Anak tipe auditif, misalnya, berbeda cara belajarnya dengan tipe visual dan kinestetik. Untuk itu guru dan orangtua perlu memahami karakteristik anak agar dapat memberi bantuan belajar yang paling tepat..

Ilmu Pendidikan telah berkembang pesat dan terspesialisasi; salah satunya yang membahas pendidikan untuk anak usia 0-8 tahun. Anak usia tersebut dipandang memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak usia di atasnya sehingga pendidikan untuk anak usia tersebut dipandang perlu untuk dikhususkan. Pendidikan untuk anak usia dini ini telah berkembang dengan pesat dan mendapat perhatian yang luar biasa terutama di negara- negara maju karena mengembangkan sumberdaya manusia lebih mudah jika dilakukan sejak usia dini.

Pendidikan Anak Usia Dini adalah ilmu multi dan interdisipliner, artinya tersusun oleh banyak disiplin ilmu yang saling terkait. Ilmu Psikologi perkembangan, ilmu Pendidikan, Neurosains, ilmu Bahasa, ilm Seni, ilmu Gizi, ilmu Biologi perkembangan anak, dan ilmu-ilmu terkait lainnya saling terintegrasi untuk membahas setiap persoalan. Untuk mengembangkan kemampan intelektual anak, diperlukan berbagai kegiatan yang dilandasi dengan ilmu psikologi, ilmu pendidikan, ilmu matematika untuk anak, sains untuk anak, dan seterusnya.