Sabtu, 29 Oktober 2011

KEBIASAAN


KEBIASAAN adalah suatu usaha yang kita lakukan berdasarkan kesungguhan yang dilakukan berulang-ulang.

Seven habits ini adalah buku monumental yang menekankan pada ketulusan, bukan perilaku instant yang dibuat-buat tanpa motivasi yang tulus. Walaupun Covey telah mengeluarkan buku baru 8 habbits, rasanya buku lamanya ini masih layak untuk dibaca ulang. Tetapi, mungkin hal ini hanya berlaku dengan orang yang memang benar menyukai tema ini.

Perubahan, prinsip dan pilihan. Ketiga hal itu adalah sesuatu yang terus ada di dunia ini.

Perubahan terus terjadi di dunia, seiring dengan waktu, maka perubahan terus terjadi.namun prinsip-prinsip tidak berubah. Seperti contohnya: prinsip-prinsip kesopanan, kejujuran, keberanian, dan kebaikan hati, yang merupakan dasar yang kokoh untuk membangun karakter manusia seutuhnya.

Pilihan selalu dimiliki oleh setiap manusia.
Seseorang yang dimaki-maki orang lain --tak mesti harus sakit hati-- dia sebenarnya memiliki pilihan-pilihan untuk memberi respon. Dia bisa sakit hati, marah, balas memaki-maki, bahkan menonjok si pelaku, Namun dapat juga diam dan tersenyum seraya menganggap si orang yang memaki-maki sedang mengalami hari yang buruk. Manusia bebas memilih, namun manusia akan selalu menanggung resiko dan tak bisa lepas dari akibat yang ditimbulkan oleh pilihan-pilihannya.

Manusia yang proaktif adalah seorang manusia yang berkemampuan memilih respon sesuai dengan nilai-nilai yang dianut. Sedang sikap reaktif adalah respon yang didasarkan pada perasaan, keadaan atau suasana hati.

Apa sih yang ingin kita capai dalam hidup kita selama ini, bagaimana ya kira-kira untuk mencapai tujuan kita itu? Nah, dengan menuliskan sebuah tujuan akhir kita sebagai sesuatu yang bisa kita sebut sebagai visi kita, kemudian barulah kita tentukan langkah-langkah untuk mencapai tujuan. Menyelaraskan kegiatan sehari-hari kita dengan tujuan yang telah kita tentukan tersebut.

Harus dibiasakan untuk mendahulukan pekerjaan ataupun sesuat hal  yang paling penting. First thing first. Jika kita termasuk pribadi yang kerap melakukan hal yang penting dan mendesak ini kemungkinan
besar karena kita termasuk orang yang terlalu banyak menunda-nunda pekerjaan dan mengabaikan perencanaan dan pencegahan. Misalnya: kehabisan bensin, terburu-buru untuk menghadiri rapat.

Anda mempunyai banyak Hal yang penting dan tidak mendesak? Selamat! Karena, idealnya  memang orang menghabiskan sebagian besar waktunya di sini. Belajar, evaluasi, perencanaan yang baik, olahraga, membina hubungan baik dengan orang lain, termasuk dalam fase ini. Misal: Belajar, Pelatihan, Olah raga 3 kali seminggu, Membina hubungan, Preventive maintenance, Memulai pekerjaan jauh sebelum batas waktu habis.

Anda mempunyai banyak Hal yang tidak mendesak dan tidak penting? Selamat juga bagi anda kalau begitu, selamat untuk tidak dapat menghasilkan apa-apa pada akhirnya. Di sinilah tempat orang-orang pemalas menghabiskan waktu. Baca koran berlebihan dengan alasan cari informasi, nonton TV berlebihan, ngobrol dengan relasi berlebihan. Hal-hal yang dalam jangka pendek menyenangkan untuk dilakukan.
Memang hal seperti ini sangat menyenangkan, tetapi tidak ada manfaatnya untuk jangka panjang. Misal:  Telpon tak penting, Tak bisa menolak ajakan orang, Banyak main games, Banyak membaca koran/majalah, Banyak nonton TV, Banyak ngobrol, Tidur melulu, Banyak jalan-jalan.


7 Habits of Highly Effective People atau 7 Kebiasaan manusia yang sangat efektif ditulis oleh Dr. Stephen R Covey. Buku ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1989 dan sudah dicetak melebihi 15 juta ekslempar pada tahun 2004 serta telah diterjemahkan ke dalam 38 bahasa (termasuk bahasa indonesia).
Dr Covey sendiri dinobatkan sebagai salah seorang (dari 25) yang sangat mempengaruhi Amerika oleh “Time Magazine” pada tahun 1996. Selain itu, Dr Covey juga menulis sebuah buku (bersama dengan A.Roger & Rebecca R Merrill) yang juga tidak kalah terkenalnya yaitu First Thing First

Pertama kali membuka buku 7 Habit ini, saya langsung disuguhi dengan definisi paradigma atau sudut pandang. Apa yang kita lihat belum tentu sama dengan yang dilihat oleh orang lain, teman kita, atau bahkan orang yang duduk di sebelah kita. Sekalipun obyek yang kita lihat sama, hasil atau respon yang muncul tidak selalu sama. Inilah kekuatan sebuah paradigma. Jika kita tidak mengerti paradigma orang lain maka kita akan berpikiran bahwa orang ini aneh, freak, atau seenaknya sendiri. Demikian pula dengan orang lain yang tidak bisa memahami paradigma berpikir kita. Berusaha memaksakan sudut pandang kita kepada mereka akan menghasilkan perdebatan dan permusuhan, sebaliknya jika kita berusaha memahami paradigma mereka maka kita akan mengerti mereka, menyelami mereka, dan mendapatkan hubungan yang lebih menyenangkan.
Pertanyaannya adalah paradigma siapa yang lebih benar ? Adakah standar yang sama untuk menilai sudut pandang seseorang ? Inilah yang akan dibahas dalam buku 7 Habits of Highly Effective People. Kita harus merubah sudut pandang  dan cara berpikir kita terlebih dulu supaya bisa menjadi seseorang yang sangat efektif.

Dan langkah pertama yang harus kita lakukan adalah merubah diri kita sendiri. Perubahan ini akan dirasakan oleh orang di sekitar kita yang kemudian dengan sendirinya akan berubah seiring dengan peningkatan kemampuan kita. Langkah terakhir adalah menjaga keseimbangan ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar