Sabtu, 29 Oktober 2011

Sudut Epistimologi


Dari sudut epistimologi, kajian tentang metodologi pembelajaran anak usia dini telah dikembangkan dengan acuan filosofis, pendekatan dan model yang beraneka ragam, termasuk didalamnya adalah kajian tentang model kurikulum untuk anak usia dini. Sesuai dengan kerangka landasar filsafat yang telah dibahas sebelumnya, pengembangan kurikulum anak usia dini secara garis besar dikelompokan dalam tiga model.

Pendekatan pertama dilakukan dengan model proses pematangan (maturitional models). Pendekatan ini didasarkan pada teori yang dikembangkan oleh Gessel, Freud dan Erikson.

Pendekatan kedua dikenal dengan model tingkah laku-lingkungan yang didasarkan pada teori Skinner, Baer, Bijou dan Bandura.

Pendekatan ketiga dilakukan dengan menggunakan model interaksi yang didasarkan pada teori Piaget dan Vygotsky.



Keunikan Anak Usia Dini



Setiap anak bersifat unik, tidak ada dua anak yang sama sekalipun kembar siam. Setiap anak terlahir dengan potensi yang berbeda-beda; memiliki kelebihan, bakat dan minat sendiri. Ada anak yang berbakat menyanyi, ada pula yang berbakat menari, matematika, bahasa, dan adapula yang berbakat olah raga. Kenyataan menunjukkan bahwa setiap anak tidak sama, ada yang sangat cerdas, ada yang biasa saja, dan ada yang kurang cerdas. Perilaku anak juga beragam, demikian pula langgam belajarnya. Oleh karena itu para pendidik anak usia dini perlu mengenal pembelajaran untuk anak yang berkebutuhan khusus. Dengan memahami kebutuhan khusus setiap anak diharapkan para guru mampu mengembangkan potensi anak dengan baik.

Ki Hadjar Dewantara(1957) merangkum semua potensi anak menjadi cipta, rasa, dan karsa. Teori Multiple Intelligencies (Kecerdasan Ganda) dari Gardner (1998) menyatakan ada delapan tipe kecerdasan. Biasanya seorang anak memiliki satu atau lebih kecerdasan, tetapi amat jarang yang memiliki secara sempurna delapan kecerdasan tersebut.

Pendidikan untuk Anak Usia Dini bertujuan membimbing dan mengembangkan potensi setiap anak agar dapat berkembang secara optimal sesuai tipe kecerdasannya. Oleh karena itu guru harus memahami kebutuhan khusus dan kebutuhan individual anak. Memang disadari ada faktor-faktor pembatas, yaitu faktor-faktor yang sulit atau tidak dapat diubah dalam diri anak yaitu faktor genetis. Oleh karenanya Pendidikan Anak Usia Dini diarahkan untuk memfasilitasi setiap anak dengan lingkungan belajar dan bimbingan belajar yang tepat agar anak dapat berkembang sesuai kapasitas genetisnya.

Anak usia dini sedang dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun mental yang paling pesat. Pertumbuhan dan perkembangan telah dimulai sejak prenatal, yaitu sejak dalam kandungan. Pembentukan sel syaraf otak, sebagai modal pembentukan kecerdasan, terjadi saat anak dalam kandungan. Setelah lahir tidak terjadi lagi pembentukan sel syaraf otak, tetapi hubungan antar sel syaraf otak (sinap) terus berkembang. Begitu pentingnya usia dini, sampai ada teori yang menyatakan bahwa pada usia empat tahun 50% kecerdasan telah tercapai, dan 80% pada usia delapan tahun.


Anak usia dini juga sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun mental yang sangat pesat. Sel-sel tubuh anak tumbuh dan berkembang amat cepat. Tahap awal perkembangan janin sangat penting untuk pengembangan sel-sel otak, bahkan pada saat lahir jumlah sel otak tidak bertambah lagi.

Selanjutnya setelah lahir terjadi proses mielinasi dari sel-sel syaraf dan pembentukan hubungan antar sel syaraf, dua hal yang sangat penting dalam pembentukan kecerdasan. Makanan bergizi dan seimbang serta stimulai pikiran sangat diperlukan untuk mendukung proses tersebut. Selain pertumbuhan dan perkembangan fisik dan motorik, perkembangan moral (termasuk kepribadian, watak, dan akhlak), sosial, emosional, intelektual, dan bahasa juga berlangsung amat pesat. Oleh karena itu usia dini (usia 0-8 tahun) juga disebut tahun emas atau golden age.

Oleh karena itu jika ingin mengembangkan bangsa yang cerdas, beriman dan bertaqwa, serta berbudi luhur hendaklah dimulai dari usia dini. Itulah sebabnya negara-negara maju amat serius mengembangkan Pendidikan Anak Usia Dini, yang tidak dianggap sebagai pelengkap, tetapi sama pentingnya dengan pendidikan SD atau sekolah menengah.

Jumat, 28 Oktober 2011

Prinsip dari Pendidikan di Usia Dini


Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Yang secara umum bertujuan untuk mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Prinsip-Prinsip Pendidikan Anak Usia Dini
Dalam melaksanakan Pendidikan anak usia dini hendaknya menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut :

a.  Berorientasi pada Kebutuhan Anak

Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis, yaitu intelektual, bahasa, motorik, dan sosio emosional.

b.  Belajar melalui bermain

Melalui bermain sebagai sarana belajar, anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan, memanfaatkan, dan mengambil kesimpulan mengenai benda di sekitarnya.

c.   Lingkungan yang kondusif

Menciptakan lingkungan yang sedemikian rupa sehingga menarik dan menyenangkan dengan kegiatan pembelajaran melalui
bermain, dengan memperhatikan keamanan serta kenyamanan.

d.   Menggunakan pembelajaran terpadu

Pembelajaran pada anak usia dini harus menggunakan konsep pembelajaran terpadu yang dilakukan melalui tema. Tema yang dibangun harus menarik dan dapat membangkitkan minat anak dan bersifat kontekstual. Hal ini dimaksudkan agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas sehingga pembelajaran menjadi mudah dan bermakna bagi anak.



e.  Mengembangkan berbagai kecakapan hidup

Dapat dilakukan melalui berbagai proses pembiasaan, yang dimaksudkan agar anak belajar untuk menolong diri sendiri, mandiri dan bertanggungjawab serta memiliki disiplin diri.

f.   Menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar

Dapat berasal dari lingkungan alam sekitar atau bahan-bahan yang sengaja disiapkan oleh pendidik /guru.

g.  Dilaksanakan secara bertahap dan berulang –ulang

Dimulai dari konsep yang sederhana dan dekat dengan anak. Agar konsep
dapat dikuasai dengan baik hendaknya guru menyajikan kegiatan–kegiatan yang berluang dan terus diulang.


Standar kompetensi=standar kemampuan anak usia 0-6 tahun yang didasarkan pada perkembangan anak.

Standar kompetensi ini digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan kurikulum anak usia dini.

Yang terdiri atas pengembangan aspek-aspek sebagai berikut:
a.     Moral dan nilai-nilai agama
b.     Sosial, emosional, dan kemandirian
c.      Bahasa
d.      Kognitif
e.      Fisik/Motorik
f.      Seni

Early Cildhood Education


Globalization touches all aspects of life today exposes the entire community into a new era, which seemed no distance.

And based on that matter, children are being expected actively developing themselves potentially and also having the spiritual strength of religious, self-control, personality, intelligence, morality, and the skills.

Be focused on the potential of this child in the first three years of his life. The period of the golden age is a very important period, where the potential of intelligence and basic behaviors formed during this period, which is believed if the child is constituted with this, it will produce a generation of quality.

There are many concepts and facts that are found provide to explanation of a golden period in early childhood, in which all the potential of children is growing most rapidly. Some concepts are juxtaposed with the early childhood is a period of exploration, the identification / imitation, the sensitive, the play and the trozt alter

And at this period, we should begin to applicating various pillars of education, such as learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together.

As a means of learning ,is obtained by studying a lot of things. Supported by the pleasure that can be obtained from the understanding, knowledge and discovery. From this point of view, then all children are required for getting a decent education.

However, because knowledge is wide and capable of almost infinite development, any attempt to know everything becomes more and more futile. In fact, after the stage of basic education, the idea became a multi specialist subject is only an illusion.

The process of improving the ability of concentration can take different forms and can be helped by different learning opportunities that arise in the course of life.
How do we adopting education as to equipping people to do the kind of work needed in the future?
The main concept is now one of the "personal competence".

Personal competence is assessed by looking at the mix of skills and talents, combining certified expertise gained through technical and vocational training, social behavior, personal initiative and willingness to take risks.

This type of personal competence involving congenital or acquired qualities are very subjective, often referred to as "people skills" or "interpersonal skills", combined with the knowledge and skills for another job.

Jean Piaget (1972) suggested about how children learn: "Children learn through interaction with its environment. Children should be able to conduct his own experiments and research. Teachers can guide children by providing appropriate materials, but most importantly so that children can understand something, he must develop an understanding of itself, and he must find his own.

 "Lev While Vigostsky believes that: the experience of social interaction is important for the development of the child's thinking process. High mental activity in children can be formed through interactions with others. Learning will become a meaningful experience for the child if he can do something about the environment.

Howard Gardner's multiple intelligences in the state of human development is divided into: bodily kinesthetic intelligence, intrapersonal intelligence, interpersonal intelligence, naturalistic intelligence, intelligence logiko - mathematical, visual intelligence - spatial, musical intelligence.

Thus the development of human thinking ability is related to brain structures, whereas the structure of the brain itself dipengaruhioleh stimulation, health and nutrition provided by the environment so that the appropriate role of education for young children is needed.